Webinar: Merdeka Belajar Masa/Pasca Pandemi dalam Rangka Milad ke-71 MUHA
Web Seminar (Webinar) Nasional diselenggarakan panitia Milad ke-71 SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta pada Sabtu, 9/10/2021 pukul 08.00 WIB secara Online dengan mengusung tema memahami “Merdeka Belajar Masa / Pasca Pandemi”. Hal tersebut berdasarkan atas kebijakan perubahan pembelajaran menuju merdeka belajar yang dicanangkan Mendikbud untuk mempersiapkan siswa menjadi pelajar yang tangguh, relevan dengan kebutuhan zaman, dan siap menjadi pemimpin yang berjiwa kebangsaan tinggi, namun dalam pelaksanaanya sejak 2019 harus terganjal wabah pandemi Covid 19.
Manfaat yang diambil oleh peserta yang terdiri dari guru, dan praktisi pendidikan maupun masyarakat umum dalam web seminar ini tentunya agar mereka dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada masa pandemi maupun mempersiapkan pembelajaran setelah pandemi usai (new normal) / Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) dengan aman, nyaman, dan tetap mengantarkan peserta didik tetap berprestasi. Peserta juga dapat menentukan model pembelajaran yang tepat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar pasca-pandemi serta memperkaya dan meningkatkan wawasan dan kompetensi siswa di dunia nyata sesuai dengan passion dan cita-citanya.
Sesuai dengan yang dicanangkan Kementerian Pendidikan RI pelaksanaan pembelajaran merdeka belajar juga diharapkan menghasilkan manusia Indonesia yang unggul, alim, beradab, berilmu, profesional dan berdaya saing, serta berkontribusi positif bagi kesejahteraan bangsa. Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Bapak Drs. H. Slamet Purwo dalam sambutannya juga mengharapkan bahwa, “mudah mudahan seminar yang atau werbinar yang kita adakan betul-betul memberikan manfaat bagi kita semua dalam dunia pendidikan dan mengelola sekolah. Apalagi di saat pandemi yang insya allah akan segera berakhir, sekolah termasuk SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta sudah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara terbatas”.
Hadir dalam sambutan yang kedua oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY Bapak Drs. Gita Danupranata, MM beliau menyampaikan, “memaknai merdeka belajar ini juga untuk mengoptimalkan semua potensi. Para peserta webinar, para pendidik semua, mari kita canangkan tahun ke depan materi-materi ajar penuh dengan hal yang benar-benar bisa mengantarkan peserta didik menjadi sebuah kebutuhan. Analoginya adalah ketika kita menonton acara yang menyenangkan sampai ditinggal, digigit nyamuk pun tidak terasa karena saking asiknya dengan menikmati materi belajar tersebut”. Beliau juga menambahkan bahwasanya perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa kita pungkiri salah satunya adalah penyelenggaran seminar dengan model webinar ini.
Berikut ini adalah hasil dari pemaparan web seminar oleh dua tokoh nasional yang dimoderatori oleh Bapak Arifin Nur Himawan, S. Pd:
Totok Suprayitno, Ph.D. (Analis Kebijakan Kemendikbudristek)
Kemampuan Teknis dan Non Teknis dalam Adaptasi Pembelajaran Masa/Pasca Pandemi.
Apa yang terjadi ketika pandemi atau bencana sekolah ditutup? Yaitu terjadi penurunan hasil belajar. Pandemi Covid-19 telah memperburuk hasil belajar siswa. Ini menunjukkan bahwa belajar dengan dipandu guru itu sangat penting. Ketika anak-anak dilepaskan tidak dipandu guru maka terjadi learning loss. Fenomena learning loss menyebabkan anak-anak kehilangan pengalaman belajar. Fenomena yang lain adalah akan terjadi learning gap yang semakin melebar dan kalau kita biarkan maka learning gap ini akan menjadi semakin besar nanti bisa berdampak permanen. Konteks inilah yang menjadi perhatian dan penyelesaiannya dengan cara tindakan pemulihan: focus on learning.
Merdeka Belajar: Menghilangkan Belenggu dalam Pembelajaran.
Kenapa sekolah atau kelas atau pembelajaran justru menjadi belenggu? Jika sekolah itu menjadi belenggu, maka ini sebenarnya bertentangan dengan amanah para tokoh pendidika seperti Ki Hajar Dewantoro. Salah satu kata kunci memerdekakan manusia bahwa pendidikan itu harus memerdekakan manusia lahir maupun batin. Demikian juga seperti tokoh Muhammad Sjafei pendiri Indonesisch Nederlansche School Kayutanam Pendidikan yang memerdekakan definisinya membebaskan alam pikiran murid dari sekat-sekat alam dan manusia untuk mencapai gilang-gemilang lahir dan batin. Merdeka ini bukan tanpa batas. Pendidikan yang menyenangkan juga bukan pendidikan yang senang-senang saja tetapi joyful.
Sekolah perlu mengembangkan dan menerapkan School-Based Resilience Program untuk meningkatkan resilience dan well-being siswa dan seluruh warga sekolah. Isu-isu resilience yang dihadapi siswa menjadi bagian terencana dari program pembelajaran dan pengembangan kultur sekolah. Mengingat keragaman konteks dan budaya daerah, pendekatan program ini hendaknya bukan keseragaman “one-size-fits-all’. Berikut beberapa contoh School-Based Resilience Program di beberapa negara:
- The Team of Life Programme – UK.
Didesain untuk mendorong para siswa mengenali kekuatan dan resilience idola mereka sebagai “life teams’-nya.
- Families and Schools Together (FAST) – UK.
Koneksi rumah-sekolah untuk mempromosikan keterlibatan orang tua dalam memecahkan berbagai isu siswa.
- Strengthening Families Programme (SFP) – US.
Intervensi multi dimensi untuk menumbuhkan dan meningkatkan resilience siswa, misalnya penguatan self-esteem dan problem solving skills siswa.
- Building Emotional Resilience Programme – Scotland.
Pengembangan program terpadu dan menyeluruh untuk membangun emotional resilience and wellbeing siswa.
Dr. Muchlas Arkanuddin, M.T (Rektor UAD 2019-2023)
Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Asinkron dan Sinkron.
Bagaimana Menghadapi Tatanan Baru?
Pada awal awal pandemi ada 3 skenario yang kami buat untuk mennghadapi permasalahan pembelajaran dimasa pandemi seperti ini. Pertama adalah skenario optimis, kemudian skenario tengahan, dan skenario pesimistis. Mengikuti skenario tatanan baru yang diyakini adalah sebagai berikut:
- Optimistis
Maret/April 2021 (Semester Genap 2020/2021)
- Tengahan
Sept./Okt. 2021 (Semester Ganjil 2021/2022)
- Pesimistis
Maret/April 2022 (Semester Genap 2021/2022)
Jadi kurang lebih mulai Maret-April 2022 kita sudah mulai memasuki tatanan baru ini sesuai dengan skenario optimis, tengahan, dan pesimistis. Tapi dengan data-data yang ada ternyata kita sekarang bisa melihat bahwa skenario pesimistis. Kira-kira nanti di bulan Maret atau April kita sudah bisa mulai tatap muka yang lebih banyak. Dalam hal strategi pembelajaran dapat menggunakan blanded learning dengan proporsi aktivitas face-to-face. Memperbanyak proporsi asinkron daripada sinkron pada sisi online. Menggunakan platform LMS (learning management system) yang dibangun sendiri oleh sekolah.
Berkaitan dengan perkembangan teknologi pasca pandemi saat ini ternyata menyajikan kemudahan di semua ruang lingkup kehidupan, termasuk juga dalam perubahan nilai layanan dan juga kualitas pembelajaran. Bahwa ternyata di era pandemi telah melatarbelakangi terhadap percepatan pembelajaran secara digital. Oleh karena ada beberapa hal yang harus kita lakukan, yaitu harus mampu mengambil peran sebagai pengguna teknologi yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Serta memanfaatkan teknologi yang terintegrasi bersinergi dalam rangka percepatan pendidikan. Transformasi digital adalah perubahan budaya dan operasionalisasi dari suatu organisasi, industri atau ekosistem melalui integrasi cerdas dari teknologi digital, proses dan kompetensi di semua tingkatan dan fungsi secara bertahap dan strategis. (EY).
