Rafi’i Maulana Juara 1 Piala Raja Karate Internasional Championship
Pewarta Smuha menelusuri jejak langkah siswa bernama Rafi’I Maulana kelas sebelas program IPS dalam meraih prestasi olahraga Karate. Siapa sangka siswa yang memiliki perawakan kutu buku dan berkacamata ini, dapat meraih Juara 1 “Piala Raja Karate Internasional Championship” di GOR Among Rogo Yogyakarta pada tanggal 9-11 Desember 2022.
Dorongan orang tua menjadi sangat penting untuk membuatnya yakin dan berani dalam mendaftarkan diri mengikuti kejuaraan Piala Raja Karate. Rafi’i mengungkapkan, “Setelah latihan satu bulan khusus untuk pertandingan kebetulan sudah selesai ujian Penilaian Akhir Semester (PAS). Awalnya saya ingin meminta ijin tidak mengikuti PAS, tetapi karena disarankan oleh orang tua untuk ikut saja, toh juga jadwal saya main pertandingan masih setelah sholat Jumat”. Rafi’i juga pandai dalam mengatur waktu antara latihan, ujian semester di sekolah, dan pertandingan.
Berangkat dari kediamannya di jalan Glagahsari Kota Yogyakarta ke tempat pertandingan di GOR Among Rogo dengan mental yang benar-benar sudah siap ungkapnya, “Saat pertandingan itu saya benar-benar tidak memikirkan apapun selain permainan yang saya mainkan. Alhamdulillah saya mendapatkan Juara 1 dipertandingan “Piala Raja Karate Internasional Championship dengan hasil yang memuaskan, tetapi saya tidak akan berhenti disini, saya menargetkan diri saya untuk mengikuti kembali Kejurda DIY tahun 2023”.
Mengenal lebih dalam mengenai kesehariannya, ternyata sejak masih Taman Kanak-kanak (TK) olahraga yang pertama Rafi’i tekuni sebenarnya adalah Badminton namun berhenti ketika ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia menceritakan, “Ketika saya menekuni Badminton sebenarnya sudah sampai kelas nasional (sirkuit nasional) dan terhenti di 16 besar. Saya sempat juara 3 di kejuaraan Djarum Multi Cabang (DMC) Bantul dan juga sempat audisi Djarum Kudus tetapi tidak lolos. Saya berhenti Badminton saat SMP karena memang waktunya habis untuk latihan saja sedangkan saya juga harus membagi waktu dengan orang rumah”. Saat itu juga Rafi’i mulai mencari olahraga yang tidak begitu menyita waktu banyak hingga nyaman dengan cabang olahraga beladiri Karate, ungkapnya.
Ada hal kemudian membuatnya nyaman dalam latihan Karate. Ia pun menceritakan kembali mengapa harus Karate yang ia tekuni saat ini. Rafi mengatakan, “saya jujur tidak tertarik dengan karate juga awalnya, hanya tau saja karate itu olahraga beladiri, saya mulai mengenal karate sejak adik saya mengikuti karate di Sekolah Dasar (SD)-nya”. Ia kemudian menyukainya karena berkat ayahnya mendaftarkan Rafi’i olahraga beladiri karate secara tiba-tiba. Awalnya ia mengatakan dengan perasaan agak malas mengikutinya tetapi ia harus tetap berangkat karena sudah mendaftar. Awal latihan masih kesulitan dalam beradaptasi banyak teman-temannya yang bukan se-usianya. “Setelah beberapa latihan saya sudah mulai terbiasa dan mulai saat itu saya mulai enjoy latihan dengan perasaan senang tanpa ada beban”, imbuhnya.
Pada pertandingan karate pertamanya tanggal 5 Maret 2022 dalam event Kejurda Inkai ia mendapatkan juara 1. Ia mengakuinya dengan mengatakan, “sangat senang kemenangan pertamaku walau saat pertandingan tidak semulus di latihan tapi saya tetap bangga dan rasanya lebih ingin meningkatkan level permainan”. Pada tahun yang sama Rafi’i mengikuti pertandingan kembali untuk event Student Challenge 2 yang dilaksanakan di Kulonprogo. Pertandinganpun tidak selalu mulus, dalam suatu kesempatan itu ia mengatakan, “permainan benar-benar buruk menurut saya masih kurangnya keseimbangan badan, membuat saya harus menerima kekalahan pada event Student Challenge 2 di Kulonprogo. Mulai saat itu semangaku menurun, sudah malas malasan latihan, tetapi harus tetap latihan karena untuk memfokuskan ujian sabuk. Ujian sabuk harus ada persyaratan yang dipenuhi. Setelah dengar kabar bahwa Piala Raja Karate Internasional Open Championship akan diadakan saya tidak langsung semangat ingin mengikuti saya masih ada perasaan ragu untuk mengikuti”. Dorongan orangtuanya itulah yang membuatnya kembali kuat dan meraih Juara 1 kembali. Jadi menurutnya peran dari dorongan orang tua sangat penting untuk menunjang semangat dan latihan. Jangan pernah puas dengan hasil yang diraih dan menurutnya, “malas itu wajar tetapi jangan sampai keterusan nanti bisa jadi lupa diri dan hilang semua apa yang telah kita pelajari dari lama”. (EY)
