SAFARI KURBAN 1446 H: MENYELAMI MAKNA PENGORBANAN DI TENGAH HARMONI PEDESAAN
Kabut pagi masih menggantung rendah ketika sembilan belas siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta itu berkumpul di halaman sekolah. Matahari belum sepenuhnya bangkit, tetapi semangat mereka telah menyala-nyala, siap mengarungi perjalanan menuju Sragan, sebuah dusun di Pundong, Bantul, di mana seekor sapi telah menanti untuk menjadi bagian dari ritual pengorbanan yang sakral.
Perjalanan yang Bukan Hanya tentang Jarak
Pukul 12.40, rombongan mulai bergerak meninggalkan keramaian kota. Jalanan berkelok, sawah-sawah menghampar, dan langit biru yang tak bercelah seolah menjadi pertanda bahwa hari ini bukan sekadar perjalanan biasa. Di balik jendela bus, wajah-wajah penuh tanya itu memandang keluar—sebagian mungkin baru pertama kali merasakan hidup di tengah masyarakat yang begitu berbeda dari keseharian mereka.
Sesampainya di Masjid Al Huda, tangan-tangan kecil anak-anak TPA sudah menunggu dengan senyum sumringah. "Kakak-kakak dari kota!" seru salah satu bocah, matanya berbinar. Lintang Kayla Azzahra, salah satu peserta, tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Di sini, di antara debu jalanan dan gemericik sungai kecil di belakang masjid, batas antara "kita" dan "mereka" perlahan luluh.
Malam yang Menyimpan Ribu Hikmah
Ketika azan Maghrib berkumandang, semua terdiam. Suara jangkrik dan desau angin menjadi latar yang sempurna bagi kekhusyukan shalat berjamaah. Usai shalat, mereka berbagi cerita dengan warga—tentang panen yang gagal, tentang anak-anak yang harus berjalan berkilo-kilo meter ke sekolah, tentang betapa berharganya air bersih di sini.
Malam itu, pengajian akbar digelar di pelataran masjid. Suara ustaz bergema, tetapi yang paling mengena justuar adalah tangisan seorang ibu tua yang bercerita tentang kesabarannya menghadapi ujian hidup. Muhammad Fauzan Juantama, salah satu siswa, menunduk, matanya basah. "Kami datang untuk berqurban, tapi justru dapat pelajaran hidup yang jauh lebih berharga," bisiknya.
Fajar Pengorbanan
Pukul 06.00, pisau telah diasah. Nafas berat sang sapi terdengar jelas di udara dingin pagi itu. Ada detik-detik hening sebelum penyembelihan—sebuah keheningan yang berbicara lebih keras daripada seribu kata. Darah yang mengalir ke tanah bukan sekadar akhir, melainkan awal dari pembagian daging untuk puluhan keluarga yang mungkin hanya sekali setahun merasakan daging segar.
Ketika tangan-tangan kecil itu kembali menerima paket daging, ada cahaya syukur yang tak terucapkan. "Ini untuk ibuku yang sakit," kata seorang gadis kecil, memeluk erat bungkusan itu.
Pulang dengan Hati yang Lebih Lapang
Matahari sudah tinggi ketika rombongan bersiap pulang. Warga berjabat tangan, ada yang menyelipkan pisang atau singkong ke dalam tas mereka—sebuah balasan sederhana yang terasa begitu bermakna. Di bus, tak ada yang bersuara keras. Mungkin mereka masih mencerna segala yang telah dialami: tentang ketulusan, tentang rasa syukur, tentang arti sebenarnya dari "memberi".
Kepala sekolah, yang sejak awal mendukung penuh kegiatan ini, mungkin akan tersenyum jika tahu bahwa yang dibawa pulang siswa-siswanya bukan hanya sertifikat atau dokumentasi, melainkan sepotong hati dusun Sragan yang akan terus berdetak dalam ingatan mereka.
Safari Qurban tahun ini bukan sekadar tentang menyembelih hewan. Ia telah menjadi perjalanan menyembelih keegoan, menyucikan niat, dan merajut kebersamaan yang mungkin tak akan pernah terlupakan.
Catatan Akhir:
Kegiatan ini tidak hanya memenuhi rukun Islam, tetapi juga menjadi cermin nyata dari pesan Ki Hajar Dewantara: "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani." Di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan. Dan semoga, api semangat ini terus menyala hingga Safari Qurban tahun-tahun mendatang (EY).
