DEGRADASI MORAL GENERASI Z

Degradasi Moral Generasi Z: Sebuah Realitas

Generasi Z – mereka yang lahir kurang lebih antara 1997-2012 – tumbuh di tengah gelombang digital, media sosial, dan arus globalisasi yang sangat cepat. Kondisi ini membawa banyak peluang, tapi juga menghadirkan tantangan moral yang nyata. Penelitian menunjukkan bahwa di kalangan generasi ini muncul fenomena seperti kenaikan perilaku individualistis, menurunnya empati, lemahnya etika komunikasi, hingga kasus bullying atau perilaku menyimpang lainnya.
Dalam perspektif Islam, moral (akhlaq) bukan sekadar “baik – buruk” dalam pengertian sosial, tetapi mencakup kedekatan kita dengan Allah, sikap terhadap sesama manusia, hingga pencerminan nilai-nilai Qur’ani. Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan potensi fitrah dan pilihan (QS 30:30) sebagai dasar moralitas universal. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” Dengan demikian, ketika generasi muda kehilangan arah akhlak, maka bukan hanya persoalan sosial melainkan persoalan ruhani.
Faktor-Faktor Penyebab Degradasi Moral Generasi Z
Berdasarkan berbagai penelitian, berikut beberapa faktor kunci penyebab moral menurun di kalangan generasi Z:
1. Paparan Teknologi & Media Sosial yang Tidak Terkontrol
Generasi Z adalah digital natives: gadget, media sosial, aplikasi instan menjadi bagian utama keseharian. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa interaksi terus-menerus dengan gadget tanpa filter moral bisa menimbulkan budaya konsumsi cepat, kurangnya refleksi, hingga normalisasi perilaku yang sebelumnya dianggap menyimpang.
2. Keluarga dan Lingkungan yang Lemah dalam Pendidikan Akhlak
Studi menemukan bahwa peran keluarga sebagai arena pendidikan nilai pertama sudah makin terbatas: orang tua sibuk, kurang teladan, atau tidak mengetahui cara mendampingi anak di era digital. Lingkungan masyarakat juga mengalami permisifitas atau melemahnya norma sosial.
3. Pengaruh Teman Sebaya (Peer Influence) dan Lingkungan Sosial
Generasi Z sangat dipengaruhi oleh lingkaran mereka: gaya hidup hedon, tekanan untuk “terlihat keren”, tren media sosial, bahkan bullying dan kenakalan. Penelitian di desa di Sumatera Utara menemukan bullying, narkoba, perjudian online, hingga seks bebas sebagai sebagian manifestasi degradasi moral.
4. Globalisasi Nilai, Konsumerisme dan Hiperseksualitas
Arus global membawa budaya konsumsi, budaya pop, cepatnya eksposur seksual, budaya “viral” yang kadang “lepas” dari nilai moral tradisional. Penelitian menyebut gaya hidup hedon sebagai salah satu variabel positif dalam perilaku keuangan generasi Z Indonesia.
5. Kurangnya Literasi Digital dan Etika Teknologi
Teknologi sendiri tidak buruk, namun tanpa literasi digital dan etika yang kuat, generasi Z rentan jatuh ke dalam echo-chamber, konten negatif, disinformasi, dan perilaku online yang merusak moral. Studi tentang literasi digital berbasis Islam menunjukkan bahwa rendahnya kapasitas verifikasi dan etika digital menjadi masalah besar.
Perspektif Islam: Mengapa Ini Masalah Besar?
Dalam Islam, akhlak bukan hanya atribut sosial; ia adalah refleksi dari iman dan penghambaan seseorang kepada Allah. Qur’an menyebut:
“Dan carilah karunia Allah; dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 3:133)
Nilai-nilai seperti kejujuran (sidq), sabar (sabr), kasih sayang (rahmah), keadilan (adl) ditegaskan sebagai karakter yang harus dimiliki setiap muslim.
Jika generasi Z melemah akhlaknya, maka tidak hanya terjadi kegagalan sosial melainkan kegagalan spiritual: hubungan dengan Allah melemah, akhlak terhadap sesama terkikis, dan ummah kehilangan regenerasi yang kuat.
Solusi atau Harapan untuk Generasi Z Muslim
Untuk membalik tren degradasi moral ini, kita membutuhkan strategi yang kontekstual, sesuai dengan dunia generasi Z. Berikut beberapa pendekatan:
• Penguatan Pendidikan Nilai dalam Keluarga, Sekolah dan Komunitas
Keluarga sebagai unit pertama, sekolah sebagai lembaga pendidikan karakter, dan komunitas sebagai lingkungan sosial harus bersinergi. Teladan orang tua, guru, dan teman yang baik sangat penting. Studi menunjukkan bahwa pendidikan nilai berbasis keluarga dan masyarakat dapat menjadi strategi efektif.
• Literasi Digital dan Etika Teknologi Berbasis Islam
Ajarkan generasi Z untuk menjadi pengguna teknologi yang cerdas: verifikasi informasi, etika dalam berkomunikasi, menghindari konten negatif, memanfaatkan media sosial untuk dakwah dan kebaikan. Artikel menunjukkan bahwa digital literacy berbasis moderasi Islam sangat relevan.
• Keterlibatan Aktif dalam Nilai Qur’an dan Sunnah
Generasi Z perlu merasakan bahwa akhlak mulia itu “keren” dan relevan dengan hidup mereka. Penguatan iman dan akhlak harus selaras dengan zaman. Ajaran Qur’an dan Hadis memberi pedoman: “Akhlak yang terbaik adalah iman yang paling sempurna.”
• Menciptakan Lingkungan Sosial Positif dan Peer-Support
Generasi Z perlu komunitas yang mendukung kebaikan: peer-group yang saling saling ingatkan, kegiatan sosial yang membawa makna, bukan hanya hiburan semata.
• Pendekatan Kontekstual dan Inovatif
Karena dunia generasi Z berbeda dari masa sebelumnya, maka metode pendidikan moral juga harus kreatif: game edukasi, konten digital islami, influencer yang mempromosikan akhlak, dan penggunaan media sosial secara positif.
Penutup
Generasi Z adalah harapan bangsa dan masa depan ummah. Namun, tanpa penanaman akhlak yang kuat, potensi mereka bisa tertatih oleh arus teknologi, konsumerisme, dan globalisasi tanpa filter. Dengan merujuk pada ajaran Qur’an dan Sunnah — yang menegaskan bahwa akhlak adalah bagian integral dari iman — serta berdasarkan penelitian ilmiah yang menunjukkan faktor-faktor degradasi moral, kita dapat menyusun strategi nyata untuk memperkuat generasi Z muslim yang beriman, berakhlak, dan berkarya.
Semoga generasi Z kita bukan hanya menjadi pengguna teknologi terbaik, tetapi juga menjadi pemilik karakter mulia yang membangun masyarakat yang lebih baik.