RAMADHAN SEBENTAR LAGI
Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Pembinaan Takwa dan Kesalehan Sosial
Ramadhan adalah bulan istimewa yang selalu dinantikan oleh umat Islam. Allah Swt. menjadikan Ramadhan sebagai waktu terbaik untuk memperbaiki kualitas iman dan amal. Kewajiban puasa yang ditetapkan dalam firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183), menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah pembentukan takwa sebagai puncak kesadaran spiritual seorang muslim.
Ulama klasik menempatkan Ramadhan sebagai madrasah ruhani. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan: puasa orang awam yang menahan makan dan minum, puasa orang khusus yang menjaga anggota tubuh dari maksiat, dan puasa orang yang lebih khusus lagi, yakni menjaga hati dari selain Allah. Konsep ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar ibadah fisik, tetapi proses penyucian jiwa secara menyeluruh. Sementara itu, Ibn Rajab Al-Hanbali menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan mujahadah dan Al-Qur’an. Para salaf, menurutnya, menyambut Ramadhan dengan persiapan spiritual yang panjang sebagai bentuk kesungguhan dalam meraih keberkahan.
Dalam perspektif Muhammadiyah, Ramadhan dipahami sebagai momentum penguatan iman sekaligus penggerak perubahan sosial. Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam berbagai tausiyah Ramadhan menekankan bahwa puasa harus melahirkan kesalehan individual dan kesalehan sosial. Ibadah Ramadhan tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus berdampak pada meningkatnya kepedulian terhadap fakir miskin, kejujuran dalam bekerja, serta komitmen pada nilai keadilan. Ramadhan menjadi sarana internalisasi nilai Islam berkemajuan, yakni Islam yang mencerahkan dan membebaskan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, berulang kali menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan transformasi nilai. Menurut beliau, puasa yang benar akan melahirkan manusia berintegritas, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Oleh karena itu, Ramadhan harus menjadi energi moral untuk memperbaiki krisis etika, ketimpangan sosial, dan melemahnya solidaritas umat.
Pandangan ulama modern seperti Yusuf Al-Qaradawi juga menegaskan dimensi edukatif Ramadhan. Ia menyebut puasa sebagai sarana pendidikan spiritual dan sosial yang melatih kesabaran, disiplin, dan empati. Ramadhan mendidik umat Islam agar mampu mengendalikan diri serta peka terhadap penderitaan sesama. Dengan demikian, Ramadhan menjadi sarana pembentukan manusia yang seimbang antara ibadah dan kepedulian sosial.
Menyambut Ramadhan 1447 H, umat Islam perlu mempersiapkan diri dengan niat yang lurus, memperdalam pemahaman agama, dan memperbanyak amal kebajikan. Ramadhan hendaknya dijadikan momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih bertakwa, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama. Jika Ramadhan dijalani dengan kesungguhan, ia akan melahirkan pribadi dan masyarakat yang lebih beradab, berkeadilan, dan berkemajuan.
