Pintu Ramadhan
Bulan Pintu Menuju Ramadhan dan Kesempatan Spiritual.
Bulan Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam kalender Islam, terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan yang mulia. Secara leksikal, kata Sya’ban berarti “terpisah” atau “menyebar,” menggambarkan tradisi masyarakat Arab pra-Islam yang menyebar untuk mencari air di musim kering saat bulan ini tiba.
1. Makna dan Keistimewaan Sya’ban
Para ulama klasik dan kontemporer memandang Sya’ban sebagai bulan yang memiliki keutamaan tertentu. Nabi Muhammad ﷺ dikenal memperbanyak puasa sunnah di bulan ini lebih dari bulan lain selain Ramadhan. Hal ini diriwayatkan oleh Aisyah r.a bahwa beliau ﷺ berpuasa sebanyak mungkin di bulan Sya’ban dan lebih banyak dari bulan lain sebelum Ramadhan datang.
Beberapa hadits juga menyebutkan bahwa bulan Sya’ban adalah waktu di mana amal perbuatan manusia diangkat kepada Allah, sehingga umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadah agar amal tersebut diterima dalam keadaan terbaik.
2. Fatwa dan Pandangan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menegaskan bahwa tidak ada ibadah khusus yang wajib dilakukan hanya pada tanggal tertentu di bulan Sya’ban, termasuk pada malam 15 Sya’ban. Menurut fatwa dan penjelasan Tarjih, hadits-hadits yang mengkhususkan amal tertentu seperti puasa atau shalat khusus pada malam nisfu Sya’ban tidak memiliki dasar kuat untuk menjadi kewajiban atau ibadah khusus wajib, karena bukti autentik dari Nabi ﷺ tidak ditemukan dalam sumber sahih.
Namun, Muhammadiyah menekankan bahwa bulan Sya’ban tetap menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak amalan sunnah seperti puasa, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, dan membayar hutang puasa sebelum Ramadhan tiba.
3. Pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer
Ulama klasik seperti Imam Ibn Rajab dan ulama kontemporer berbeda-beda pandangannya mengenai nilai malam nisfu Sya’ban. Beberapa menyatakan bahwa malam 15 Sya’ban memiliki keutamaan berupa pengampunan dan keberkahan, namun sebagian lain menyatakan bahwa tidak ada bukti sahih yang menetapkan keutamaan secara khusus pada malam itu sebagai ibadah wajib tertentu.
Menurut ulama kontemporer yang memberi penekanan metodologis, yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara autentik dan menghindari bid’ah dalam praktik ibadah. Perbedaan dalam syariat amaliyah hendaknya tidak menjadi pemecah persatuan umat, melainkan menjadi ruang dialog ilmiah di kalangan ulama.
4. Amalan Utama di Bulan Sya’ban
Berdasarkan pemikiran ulama klasik dan fatwa Tarjih, amalan-amalan sunnah yang baik dilakukan ketika memasuki Sya’ban antara lain:
a. Memperbanyak puasa sunnah sebagai bentuk persiapan fisik dan spiritual untuk menyongsong Ramadhan. Nabi ﷺ pernah ditanya tentang puasa terbaik setelah Ramadhan, dan puasa Sya’ban disunnahkan sebagai latihan batin untuk menyambut Ramadhan.
b. Memperbanyak dzikir, istighfar, dan membaca Al-Qur’an agar hati bersih dan siap menyambut bulan ibadah yang utama.
c.Membayar hutang puasa dari Ramadhan sebelumnya menjelang Bulan Sya’ban agar tidak terburu-buru pada saat Ramadhan tiba.
d. Mengintensifkan shalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk cinta kepada Rasul dan mengikuti sunnah beliau. Sya’ban dikenal juga sebagai bulan peningkatan selawat ke atas Nabi ﷺ.
5. Sya’ban Sebagai Wahana Persiapan
Bulan Sya’ban dipandang sebagai masa latihan iman untuk memantapkan kemampuan spiritual sebelum memasuki Ramadhan yang penuh berkah dan ujian. Ini bukan sekadar soal amalan tambahan, tetapi juga soal menanamkan konsistensi ibadah yang lebih mendalam, termasuk puasa, shalat malam, dan pembiasaan membaca Al-Qur’an yang akan mempermudah umat Islam menyongsong Ramadhan dengan kesiapan batin yang kuat.
Penutup
Bulan Sya’ban adalah anugerah spiritual yang mengajak umat Islam untuk merenung, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah sebelum memasuki bulan Ramadhan. Baik dari perspektif fatwa kontemporer seperti Tarjih Muhammadiyah maupun pandangan ulama klasik, semuanya mengajak umat untuk mengambil hikmah terbaik dari bulan ini dengan tetap berpegang pada dalil yang sahih dan metodologi yang lurus.
