Sinergi siswa, Orang tua, dan Sekolah Bersama Bunda Cinta

Webinar dalam orientasi tahun ajaran baru 2021-2022 kenaikan siswa kelas XI dan XII bertema, “Sinergi siswa, orang tua, dan sekolah untuk meraih sukses di masa pandemi” pada 12 Juli 2021 menghadirkan narasumber sekaligus motivator yang memiliki moto “hidup akan semakin bermakna dengan berbagi ilmu dan pengalaman baik” ini bernama Bunda Cinta. Ia membuka kesempatan ini dengan memperkenalkan dirinya sebagai Bunda Cinta.

“Salam kenal dari saya, nama saya singkat saja, (Sinta) hanya satu kata tetapi dalam beberapa tahun belakangan terakhir ini saya banyak dipanggil dengan sebutan Bunda Cinta. Cinta itu sebenarnya awalnya hanya plesetan dari nama saya Sinta, jadi cinta itu biar gampang diingat. Sebenarnya value lain yang ingin saya bawa dengan memakai nama bunda cinta adalah saya ingin siapa pun yang bertemu dengan saya akan saling tertransfer energi-energi cinta. Pagi hari ini saya akan berbagi cinta untuk bapak, ibu dan anak-anak semuanya boleh saya dengar tepuk tangan masing-masing di tempatnya sana untuk membakar semangat.”

Acara dibuka dengan riuh peserta dengan tepuk tangan online yang dihadiri oleh para siswa kelas XI, XII, Orang Tua / Wali Siswa, dan Guru-guru atau wali kelas. Acara yang diselenggarakan dari pukul 08.30-11.30 WIB bertujuan untuk memupuk sinergi antara siswa, guru, dan orangtua sepertihalnya yang diungkapkan oleh Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Drs. H. Slamet Purwo dalam sambutannya menyampaikan, “tujuan untuk acara ini adalah ada semacam sinergi antara siswa dan orang tua dan juga sekolah untuk kita nanti bisa meraih sukses walaupun dalam suasana pandemi yang sampai saat ini belum berakhir. Sehingga harapannya pertemuan hari ini kita menemukan satu cara untuk tetap berprestasi walaupun dalam suasana pandemi.

Atas nama sekolah, kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta juga mengucapkan selamat kepada anak-anak kelas 10 yang sekarang kelas 11 dan yang kelas 11 menjadi kelas 12 ananda dinyatakan naik kelas oleh lembaga yaitu SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tentunya dengan naik kelas tersebut ananda bersyukur, gunakan kesempatan dengan sebaik baiknya.Tentunya dengan evaluasi diri barangkali ada kelebihan dan juga ada kekurangan dari anak anak agar nanti betul-betul bisa meraih sukses di masa yang akan datang.

Webinar dalam tema “Sinergi siswa, orang tua, dan sekolah untuk meraih sukses di masa pandemi” disampaikan Bunda Cinta pertama-tama dengan pertanyaan besarnya, bagaimana cara orang tua mendampingi anak seusia 15-17 tahun? Sementara orang tua berbeda zaman dengan mereka (putra-putrinya).

Belajar di era pandemi enak enggak?, ungkapnya dengan bertanya. Iya enggak enak karena hanya bertemu dengan layar gadget, bertemu dengan layar monitor, bertemu dengan cara internetan tidak bisa bertemu dengan teman teman, padahal selama ini yang membuat kangen sekolah itu karena suasana sekolah. Ngobrol main-main sama teman-teman, nongkrong di kantin, kegiatan ekstrakurikuler, dan lain sebagainya. Tetapi ketika sedang dalam suasana pandemi ternyata bukan cuma diri sendiri, keluarga, sekolah, atau satu kota, provinsi, bahkan ke negara, hampir seluruh negara di dunia. Bunda Cinta menyampaikan “agar tidak menjadikan pandemi sebagai alasan bagi kita untuk berhenti berprestasi”. Berhenti merasa sebagai orang paling merana sedunia, karena orang lain juga sama seperti kita ketika kita sudah capek dan lelah menghadapi banyak tugas.

Peran orang tua, misalnya berbicara dengan anaknya; Bunda Cinta memberi contoh dalam menjalin komunikasi dengan anak misalnya; “Jadi anak soleh gitu lho nak!”. Bagaimana kalau dilengkapi “Jadi anak soleh gitu lho nak tahu enggak Bapak/Ibu ini juga sedang belajar untuk jadi Bapak/Ibu yang soleh”. Kalimat tambahan ini yang tidak mudah ungkapnya, jadi agar anak anak tahu bahwa yang diminta baik itu bukan cuma mereka. Konsep utama dalam mendampingi anak-anak adalah kita tidak mungkin berharap punya anak anak yang soleh solehah kalau Bapak-Ibunya sendiri juga belum.

Menjadi guru pun tidak mudah, bagaimana rasanya mencari cara supaya kreatif mengajak anak-anak senang mengikuti pelajaran dimasa pandemi itu tidak mudah, pastinya bosan dan capek itu manusiawi. Di tengah perbincangan dengan Bunda Cinta, muncul pertanyaan dari orang tua siswa “How to find supaya anak punya spirit lagi walaupun dengan cara online. Karena kita enggak tahu akan berapa lama? Jawab Bunda Cinta; benar pandemi ini bikin kita diuji, pembelajaran tidak hanya bertujuan mengejar nilai kuantitatif. Jadi nilai itu hanya bonusnya saja, yang dikejar prosesnya. Bapak dan Ibu atau Wali yang di rumah bertugas untuk mengajarkan anak-anak menikmati prosesnya, terutama tentang karakter akhlak. Bagaimana bisa mendampingi mengajarkan akhlak yang sederhana dirumah? Misalnya yang paling gampang terlihat adalah apakah anak-anak mengerjakan tugas atau ulangan itu masih dengan mencontek misalnya. “Itu hal yang paling sederhana saja. Jangan sampai karena, ya enggak apa apa lah nyontek gurunya juga enggak lihat, gurunya enggak lihat tetapi Allah maha melihat”, ungkapnya”. Materi terakhir Bunda Cinta adalah tentang “ Empat  P ”.

  1. P yang pertama adalah positive thinking, positif dalam berpikir. Kita pikirkan yang baik baik tentang suksesnya anak kita kedepan.
  2. P yang kedua adalah positive feeling, jadi positif dalam merasa dalam mentransfer energi rasa kita kepada anak anak kita, bahwa kita sayang sama mereka. Kita syukuri kehadirannya, mereka kita cinta sama mereka itu feeling bahwa mereka itu adalah anak anak yang menyenangkan,
  3. P yang ketiga adalah positive speaking, positif dalam bertutur kata. Kita lengkapi sayang dan cinta kita sama anak anak dengan kata-kata yang baik terhadap impian-impian mereka. Jadi kalau dia bilang misalnya mama, aku kepengin jadi polisi, enggak bakalan bisa, itu berarti tidak positif. Lebih baik kita katakan, “oh, insha Allah bisa kalau olahraga, kalau kamu nya rajin”.
  4. P yang terakhir adalah positive acting, positive doing, positif dalam melakukan, “jadi sambil kita nyiapin persiapan anak bikinkan sarapan, perasaannya happy, tapi tingkah laku kita juga menyenangkan dilihat anak anak.

Bahwasanya pendidikan Muhammadiyah atau sekolah Muhammadiyah itu berasaskan Islam dan berpedoman kepada Alquran maupun Hadis termasuk SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Terakhir ungkap kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, “kemudian kita merasa ini perlu ada forum yang digunakan untuk komunikasi antara siswa dengan orang tua juga dengan sekolah, forum acara ini sekolah mengharapkan nanti bisa menjadi kegiatan awal untuk kita mengetahui kemampuan anak-anak. Agar disaat nanti sekolah meluluskan para siswa pilihan prodi atau jurusannya juga sesuai perguruan tinggi yang akan datang. (Ebma Ys.)