Terus Berkarya dalam Penulisan Sejarah

Kurang lebih 38 karya hasil dari pemikiran pelajar SMA/ SMK/ MA se-DIY mengenai penelitian sejarah terangkum dalam buku Sejarah Yogyakarta: Memperteguh Keistimewaan DIY. Buku terbitan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut baru saja selesai dicetak dan sudah mulai didistribusikan ke sekolah-sekolah di DIY. Hasil karya yang terkumpul diperoleh ketika siswa SMA/ SMK/ MA se-DIY mengikuti serangkaian acara dalam Dialog dan Jelajah Sejarah dalam Pembinaan dan Pengembangan Kesejarahan di tahun 2019 lalu. Kegiatan tersebut bertujuan sebagai upaya penanaman nilai-nilai kesejarahan untuk memperkuat jati diri bangsa. Pada kesempatan itu, siswa juga guru pendamping diajak untuk mengeksplor sejarah lokal di Yogyakarta. Topik sejarah lokal yang dibahas kala itu mengenai Geger Sepehi dengan narasumber Bapak Lilik Suharmaji, S.Pd. Setelah kegiatan jelajah sejarah, siswa maupun guru diminta membuat suatu karya essay yang dilombakan kemudian pemenangnya akan mengikuti trip jelajah sejarah di daerah Cirebon.

Buku Sejarah Yogyakarta: Memperteguh Keistimewaan Yogyakarta terbagi menjadi empat bagian yang terdiri dari sejarah lokal sebagai warisan nilai-nilai luhur, warisan keteladanan Kasultanan Yogyakarta, Peristiwa Geger Sepehi, serta Sultan Sepuh pelopor kebangkitan nasional. Tidak kelewatan perwakilan SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta turut andil dalam penulisan buku tersebut. Sebanyak 2 karya tulisan sejarah yang tercetak di dalamnya. Ananda Haritsal Hibban Prabaswara (Kelas XI IPA 4) membuat tulisan yang berjudul Peran Raffles dalam Menguasai Yogyakarta. Tulisannya tercetak di halaman 122 membahas perihal keberadaan Thomas Stamford Raffles ketika menjabat menjadi gubernur jenderal usai menggantikan Janssen. Satu tulisan lagi dari Ananda Azka Athar (Kelas XI IPS 4) berjudul Usaha Mempertahankan Singgasana di halaman 177. Tulisan Azka memuat alur sejarah dari adanya peristiwa Perjanjian Giyanti hingga pergantian tahta oleh Raden Mas Surojo sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono III.

Adanya karya dari 2 siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta ini diharapkan menjadi pemantik dan motivasi untuk melakukan penelitian sejarah. Adanya buku Sejarah Yogyakarta: Memperteguh Keistimewaan DIY dapat menjadi media baru dalam belajar sejarah agar siswa dapat memperkaya literasi mengenai sejarah lokal di Yogyakarta. (NH)