Studi Wisata Kelas XI SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta ke Bali 2026: Bukan Sekadar Liburan, Tapi Perjalanan Mempererat Persaudaraan dan Menumbuhkan Toleransi

Yogyakarta – Bali, 2–6 Februari 2026. Dengan 8 unit bus yang mengangkut sekitar 360 siswa kelas XI beserta guru pendamping, SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta (Smamuhayogya) kembali menyelenggarakan outing class ke Pulau Dewata. Lima hari empat malam ini bukan sekadar wisata biasa, melainkan perjalanan pendidikan karakter yang menggabungkan pengenalan budaya, pembelajaran toleransi antaragama, dan kebersamaan antar siswa.

Dari hembusan angin laut Selat Bali hingga momen romantis hujan deras diselingi kembang api, perjalanan ini meninggalkan kenangan yang tak terlupakan bagi seluruh rombongan.

Momen Paling Berkesan

Terano Rahdiana tersenyum lebar saat mengenang malam di Pantai Melasti: “Yang paling seru itu pas hujan deras tiba-tiba, tapi kita tetap kena kembang api sambil lihat hujan. Jadi romantis banget gitu!”

Bagi Nazneen Ayesha, Bedugul menjadi tempat favorit. “Udaranya dingin, pemandangannya bagus, tempatnya bersih banget.”

Rasya Maulana paling terkesan dengan kebersamaan antarkelas. “Kita milih-milih kamar bareng, ngobrol sampai malam. Dari kelas berbeda jadi lebih saling mengenal. Tali persaudaraan makin erat.”

Alzena Zakiyya mengaku perjalanan ini jadi kenangan indah, meski sempat sakit maag karena belum terbiasa jauh dari orang tua. “Saya sangat menikmati berbagi cerita dengan teman-teman.”

Puja Mandala & Desa Islam Gel Gel: Pelajaran Toleransi yang Hidup

Di Puja Mandala, siswa menyaksikan lima rumah ibadah berbeda (masjid, gereja, pura, vihara, dan kuil) berdiri berdampingan dalam damai. Terano antusias bercerita: “Banyak banget yang bisa dijelasin. Masjid ini begini, gereja begitu, pura begini…”

Di Desa Islam Gel Gel, mereka tidak hanya sholat, tapi juga mengikuti sarasehan dengan pemuka agama setempat. Nazneen menangkap hikmahnya dengan jelas: “Orang Hindu tetap ramah dan memberi ruang buat kita belajar budaya mereka. Pelajarannya tentang toleransi dan saling menghormati.”

Perjalanan yang Mengalir Seperti Puisi

Senin pagi, 2 Februari, langit Yogyakarta masih gelap ketika 360 siswa berkumpul di halaman sekolah. Delapan bus berderet rapi, mesin menyala pelan. Dengan semangat yang membara, rombongan bertolak menuju timur. Singgah di Rumah Makan Kurnia Ngawi untuk makan siang dan sholat, lalu melanjutkan perjalanan hingga malam tiba di Rumah Makan Puritama. Setelah makan malam dan sholat, delapan bus meluncur menuju Pelabuhan Ketapang, menyeberang Selat Bali di tengah gelap malam, tiba di Gilimanuk saat fajar menyingsing.

Selasa pagi, setelah transit dan sholat Subuh di Kurnia Village, perjalanan dimulai dengan hembusan angin laut. Pura Tanah Lot menyambut dengan ombak yang memecah karang, diikuti adrenalin water sport di Tanjung Benoa. Sore harinya, Puja Mandala memberikan pelajaran toleransi yang hidup. Kemudian, keagungan Garuda Wisnu Kencana, sunset di Pantai Melasti, dan tari Kecak yang menggetarkan di bawah langit jingga. Malam itu, rombongan check-in di Hotel Sense Sunset Seminyak dengan hati penuh cerita.

Rabu, pagi yang cerah membawa mereka ke Desa Adat Panglipuran yang asri dan tertata rapi. Setelah makan siang di Khrisna Blangsinga, perjalanan berlanjut ke Desa Islam Gel Gel untuk sarasehan yang penuh hikmah. Sore hari, suasana romantis Pantai Jimbaran menyambut dengan galadiner dan live music, diiringi debur ombak dan cahaya lilin.

Kamis pagi, setelah check-out, delapan bus singgah di Joger untuk oleh-oleh, lalu melanjutkan ke Danau Beratan Bedugul. Di sana, udara sejuk pegunungan dan panorama danau yang tenang menjadi penutup perjalanan wisata yang indah. Sore harinya, bus kembali menyeberang Selat Bali, makan malam di perjalanan, dan meluncur pulang menuju Yogyakarta.

Jumat pagi, 6 Februari, tepat pukul 08.00 WIB, delapan bus memasuki halaman SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Para siswa turun dengan wajah lelah namun penuh senyum, membawa pulang kenangan yang tak tergantikan.

Oleh-oleh dan Kenangan Abadi

Pie susu hangat (yang warna merah paling enak!), boneka cicak lucu, dan belanja di Joger menjadi oleh-oleh fisik. Namun yang paling berharga adalah foto-foto bersama, cerita malam di hotel, dan pelajaran menghargai teman serta menjaga kebersihan.

Nazneen berpesan kepada adik-adik kelas: “Jangan lupa dokumentasi yang banyak! Usahain ngobrol sama temen, jangan fokus HP terus. Bikin memori bareng lewat foto dan cerita.”

Studi wisata ini kembali membuktikan komitmen Smamuhayogya sebagai Smuha Talent School dalam mengembangkan siswa secara holistik: intelektual, sosial, dan akhlak.

Terima kasih kepada seluruh guru pendamping, panitia, orang tua, dan Biro Perjalanan Prima Anjang Ria yang telah menjaga dan mendampingi dengan penuh kasih.

Selamat kepada seluruh siswa kelas XI 2026! Bali telah menjadi bagian indah dari sejarah Smamuhayogya.

Kembangkan Talenta dan Raih Prestasi Bersama – Smuha Talent School

Info SPMB 2026/2027

0812-2987-1487

https://spmb.smamuhammadiyah2yk.sch.id/

Instagram: @smamuhayogya

YouTube: smamuhayogya

TikTok: smamuhayk

#StudyTourBali2026 #Smamuhayogya #Toleransi #Persaudaraan #SmuhaTalentSchool