Pesantren Ramadhan 1447 H Merajut Iman dan Karakter di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta

Di tengah hiruk-pikuk kota Yogyakarta yang penuh sejarah, SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta menyemarakkan bulan suci Ramadhan dengan kegiatan Pesantren Ramadhan 1447 H. Program ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan perjalanan spiritual yang dirancang khusus untuk siswa kelas X, XI, dan XII. Selama tiga hari terpisah di akhir Februari 2026, ratusan siswa terlibat dalam aktivitas yang memadukan ibadah, pembelajaran, dan refleksi diri, semuanya dalam nuansa Ramadhan yang penuh berkah.

Bayangkan suasana sekolah yang biasanya riuh dengan pelajaran akademik berubah menjadi seperti pondok pesantren yang khidmat. Presensi berjajar dibalik gerbang sekolah siswa mengumpulkan gadget (handphone) kepada wali kelas) lalu memasuki kelas-kelas yang telah ditentukan. Pembukaan kegiatan dilaksanakan di Grha Ibnu Sina selalu dimulai dengan tilawah Al-Qur'an yang merdu, sambutan dari Kepala Sekolah Ibu Hj. Retno Sumirat, M.Pd., dan pengumuman oleh Ustad Mukhlis, M.S.I. "Ini adalah momen untuk kita semua memperkuat iman di tengah tantangan zaman," ujar Ibu Retno dalam sambutannya, yang seolah menjadi mantra bagi seluruh peserta.

Untuk kelas X (Fase E 1-10) pada Jumat, 20 Februari 2026, fokus utama adalah membangun keterampilan dakwah. Mulai pukul 13.30, siswa terlibat dalam "Latihan Mubaligh dan Dakwah", di mana mereka praktik membuat teks kultum dan menyampaikannya di depan kelas. Setiap kelas dibimbing oleh ustad dan ustadzah berpengalaman, seperti Ustad Mukhlis untuk E-1 atau Ustadzah Luthfiana Fatmawati untuk E-10. Setelah itu, sesi tadarus Juz 1 dan hafalan dzikir memperkaya ruhani mereka. Kajian menjelang berbuka kelas X panitia mendatangkan Ustad Dio Diadon di Grha Ibnu Sina menjadi highlight, diikuti buka puasa bersama dan shalat tarawih yang dipimpin Ustad Agus Winoto. Seorang siswa E-4, Fatichata Azzam, yang membaca Al-Qur'an di pembukaan, berbagi, "Ini kesekian kalinya saya praktik kultum, rasanya seperti menjadi dai kecil!"

Sementara itu, kelas XI (Fase F 1-10) pada Sabtu, 21 Februari 2026, menekankan aspek praktis keagamaan yang lebih mendalam. Materi sesi pertama adalah "Rukti Jenazah" – pelatihan tata cara pengurusan jenazah – yang dibagi untuk putra di Masjid Al Mujaddid dan putri di Grha Ibnu Sina, dengan pengisi seperti Ustad Alfis Khoirul Khisoli dan Ustad Muhammad Roikan. Dilanjutkan dengan tadarus Juz 2 dan hafalan bacaan shalat jenazah di kelas masing-masing. Kajian sore kelas XI panitia mendatangkan Ustadz Bapak Erik Hadi Saputro, S.Kom., M.Eng., membahas tema relevan dengan generasi muda. "Kegiatan ini mengajarkan kami tentang siklus hidup dan mati, membuat puasa Ramadhan terasa lebih bermakna," kata M. Fadhil Altaf dari F-4, pembaca Al-Qur'an pembukaan.

Kelas XII (Fase F 1-8) pada Senin, 23 Februari 2026, hadir dengan nuansa reflektif dan preventif. Mereka mendalami "Kajian Ayat tentang Perilaku Penyimpangan Sosial", membahas bahaya narkoba, miras, dan bullying di kelas masing-masing. Sesi ini dirancang untuk membekali siswa kelas akhir menghadapi dunia luar. Kajian menjelang berbuka panitia mendatangkan Ustadz Mahfud Khoirul Amin, S.I.P., M.A., di Grha Ibnu Sina, semakin memperkaya wawasan. "Di usia kami, pembahasan ini sangat tepat. Ramadhan jadi ajang introspeksi," ungkap seorang siswa F-6.

Secara keseluruhan, kegiatan ini melibatkan shalat berjamaah di Masjid Al Mujaddid, buka puasa bersama di kelas, dan tarawih bersama, ditutup oleh Ustad Mukhlis setiap harinya. Lokasi seperti Grha Ibnu Sina dan masjid menjadi pusat spiritual, sementara ruang kelas dan moving class memfasilitasi diskusi intim. Program ini tidak hanya memperkuat ibadah, tapi juga membangun karakter Muhammadiyah: progresif, toleran, dan berbasis Al-Qur'an.

Pesantren Ramadhan ini mencerminkan komitmen SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta dalam mendidik siswa holistik. Di tengah era digital, kegiatan seperti ini menjadi oase untuk generasi muda menemukan kedamaian. Seperti kata Ustad Wahyu Wijayanta, salah satu imam, "Ramadhan adalah sekolah terbaik untuk jiwa." Semoga semangat ini terus menyala hingga Ramadhan berikutnya (EB).